oleh

Badko HMI kecam keras penghinaan Mubaligh oleh Akun Twitter Rudolf Dhetu

Kolom:Budaya|32 kali dilihat

NuansaKita – Kendari : Pengurus Badko HMI Sulawesai Tenggara Naimul Tanggili menilai apapun alasannya seorang aktifis harus memegang teguh etika dalam memperjuangkan apapun. “Termasuk tidak menyinggung agama lain, maupun profesi seperti mubaligh misalnya. Karena dalam konteks yang dikemukakan Dethu, mubaligh itu hanya menyampaikan kebenaran ajaran islam, kenapa harus di bully, ” ujarnya saat dihubungi, Jumat (16/9/3016).

Ia menambahkan jika Dethu merasa dirinya benar dan memperjuangkan apa yg diyakininya benar kenapa harus menyalahkan ajaran agama lain.”kalau muslim, langkah demikian jelas tidak dibenarkan, kalaupun non muslim lebih berbahaya, akan memicu keresahan dan ketegangan antar umat beragama, ” tandas Naimul.

Baca juga :  Kemenag Sumsel Harus Tanggap Bila Ada Potensi Konflik Umat Beragama

Sebelumnya gambar kartun dan komentar yang diposting oleh akun @Rudolf Dethu manager Superman is Dead (SID) dan juga salah satu motor gerakan menolak reklamasi telah mengundang reaksi keras netizen.  Di gambar kartun itu terlihat gambar seorang laki laki berjenggot dengan tutup kepala serta kain melingkar di leher dan kemeja model gamis sedang bicara seolah menjajakan sesuatu “beli…. beli…”

Netizen menilai bahwa gambar kartun itu mengarah pada tampilan pakaian yang biasa digunakan penceramah salah satu agama. Gambar Kartun itu terkait dengan agama karena di gambar juga tertulis jelas kalimat “setelah bosan menjual lagu, pemuda ini menjual agama”.

Baca juga :  Nikmati Santai Malam Minggu di Sintesa Peninsula dengan Performance Live Music

Komentar akun @Rudolf Dhetu dalam postingan yang sama memperkuat bahwa gambar itu memang terkait agama tertentu “sebagian musisi yang karirnya mentok, memutuskan berhenti mengasong lagu. Mereka kini jualan agama”.
Terkait dengan penggunaan media sosial twitter, Naimul menyatakan bahwa tindakan Dethu dapat dikategorikan sebagai provokasi. Secara hukum bisa di kenakan UU ITE pasal 28 dengan ancaman 6 tahun penjara” demikian tegas Naimul.
“Dengan pengikut yang belasan ribu maka dethu bisa dikategorikan melakukan provokasi. Ini tindakan yg harus ditertibkan, jangan salahkan kalau kemudian ada yg bertindak berlebihan.” pungkasnya.

Baca juga :  Warga Kemuning Minta Tambah Lampu Jalan

Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita