oleh

Dari Dapur Hingga Negara

Kolom:Budaya|3 kali dilihat

Oleh : Fransiska Wung Lawing, SH, M.Si

Ditengah situasi ekonomi saat ini yang sedang terpuruk, dimana harga kebutuhan dasar rakyat terus merangkak naik. Rakyat miskin yang paling merasakan dampaknya, terutama perempuan yang dikesadaran masyarakat kita (anggapan social) berperan untuk mengelola serta mengatur keuangan dan ekonomi rumah tangga.

Kaum perempuan hrs memastikan bahwa penghasilan keluarga cukup untuk kebutuhan pangan, pendidikan anak, kesehatan keluarga dan lain sebagainya. Kaum perempuanlah yang  memutar otak untuk kecukupan kebutuhan keluarganya. Hal ini yang membuat kaum perempuan sangat rentan dengan dampak berbagai kebijakan ekonomi Pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ini paling dirasakan  perempuan dari keluarga miskin. Dengan pendapatan keluarga yang pas-pasan, kaum perempuan  diharuskan  memastikan kebutuhan domestifikasi tersedia . Ketika kebutuhan dasar tersebut  tidak terpenuhi, maka mereka yg paling  merasa tertekan dan frustasi, sehingga seringkali persoalan ekonomi menjadi pemicu bunuh diri, pertengkaran, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Baca juga :  Forum Pemuda NKRI Siap Amankan Natal dan Tahun Baru

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, hampir 60 persen kekerasan yang terjadi terhadap perempuan terjadi di dalam rumah tangga. Sebagaian besar kasus kekerasan dalam rumah tangga dipicu oleh persoalan ekonomi.

Ketika harga kebutuhan dasar rakyat terus merangkak naik, suara dan jeritan perempuan masih belum didengar. Perempuan belum diberi ruang dan peran utama dalam merumuskan kebijakan, perempuan masih ditempatkan pada posisi kelas kedua dalam masyarakat, hanya sebagai penunjang bukan yang utama, masih kuatnya anggapan patriarkal yang memenjarakan perempuan atas nama domestifikasi, bahwa tugas perempuan adalah mengurus rumah tangga, termasuk urusan dapur. Padahal kenaikan harga kebutuhan dasar paling dirasakan kaum perempuan.

Disinilah pentingnya partisipasi dan keterlibatan perempuan dalam Politik. Selama ini rakyat selalu jadi objek politik dengan sekedar memanfaatkan suara mereka di pemilu(elektoral). Rakyat tidak diberi kesempatan besar untuk ikut dalam merumuskan nasib dan kehidupannya ketika hajatan pemilu digelar.

Baca juga :  Apa Masalah, Pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Mangkrak

Dalam beberapa periode pemilihan legislatif dan kepala daerah, belum pernah ada keterlibatan perempuan dalam merumuskan program dan melibatkan perempuan secara aktif dalam aktifitas politik menjelang Pemilu. Perempuan hanya dijadikan obyek oleh Partai-partai politik untuk memenuhi persyaratan perundang-undangan terkait kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam daftar calon anggota legislatif.

Minimnya  upaya Partai politik untuk memberikan ruang yang luas berpolitik dan memajukan kesadaran kadernya serta mendukung penuh, khususnya kaum perempuan untuk bisa bersaing dengan calon anggota legislatif laki-laki terutama dalam hal gagasan dan ide, padahal yang paling merasakan dampak kebijakan politik yang diambil oleh pemerintah adalah kaum perempuan.

Baca juga :  Pagelaran Seni dan Budaya Ramaikan Festival Danau Ranau 

Kondisi inilah turut mendepolitisasi kesadaran rakyat khususnya kaum perempuan, sehingga semakin sulit untuk diajak berjuang dalam ranah politik, padahal kita tahu untuk menentukan  arah kesejahteraan kaum perempuan tentunya harus terjun ke lapangan politik.

Pemilu bagi rakyat diartikulasikan hanya sebagai hajatan elit politik dan bukan hajatan rakyat. Situasi inilah yang mengharuskan bagi kita untuk melahirkan tradisi baru dalam pemilu dengan menjadikan rakyat sebagai subjek (protagonis) politik, sehingga tujuan pemilu sebagai momentum perubahan terasa dikehidupan berbangsa dan bernegara.

Tradisi baru ini harus bisa menjadi magnet politik yang sanggup menggalang dukungan luas dan mengerakkan harapan dan memperoleh mandat rakyat. Sehingga kesadaran kaum perempuan untuk terlibat aktif dalam aktifitas politik penting dan harus tumbuh menjadi kekuatan dalam merubah nasibnya, karena kaum perempuan mampu memikirkan urusan dari dapur hingga Negara.

Salam Setara!

#BersaudaraBersamaAdil

#MenangkanPancasila


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita