oleh

Dengan Seminar Lahirkan Generasi Emas untuk Hadapi MEA !

Kolom:Ekonomi|4 kali dilihat

NuansaKita _ Palembang : Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Psikologi (ILMPI) mengadakan acara Seminar Nasional Bangkitnya Generasi Emas Dengan Psikologi : Peran Psikologi Dalam Kesiapan Mental Nasional Untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di Grand Atyasa, (16/01).

Ketua pelaksana acara seminar, Margaretta mengatakan bahwa acara tersebut di ikuti oleh 270 peserta yang merupakan mahasiswa yang berasal dari kampus atau universitas yang ada di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) diantaranya Universitas Sriwijaya (UNSRI), Universitas Andalas (Padang), Universitas Jambi, Universitas Lampung, Universitas Riau.

Ditanya kenapa seminar ini mengambil tema peran psikologi Margaretta mengatakan bahwa manusia merupakan objek utama dari psikologi oleh karena itu dengan psikologi dapat membentuk manusia yang berkualitas sesuai dengan bidangnya masing-masing sehingga dapat bekerja dengan profesional dan efektif di dunia kerja terutama dalam menghadapi kerjasama MEA.

Baca juga :  Pemprov Sumsel Serahkan 50 Unit Tenda Pada Pedagang Kuliner

“Psikologi merupakan ilmu sosial, manusia itu sendiri merupakan objek utama dari psikologi jadi dengan ini kami sebagai mahasiswa psikologi mengangkat tema peran psikologi dalam arti bahwa untuk sukses di bidangnya kita butuh manusia yang berkualitas. jadi kita butuh Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk bersaing di dunia kerja. Maka itu kami mengangkat bagaimana sih psikologi dalam kontribusinya untuk membentuk manusia yang dikatakan sebagai mumpuni itu dimana sebagai berkualitas,” ujar Margaretta.

Kemudian lanjutnya, itu mulai dari self dicipline itu diri, kita kerja tapi kita jenuh dengan pekerjaan kita kenapa? Karena kita tidak nggak efisien dengan pekerjaan itu. Jadi kita disini membahas bahwa pekerjaan itu bukan bekerja tapi kita itu lebih ke mendapatkan uang dari diri kita, itu salah satunya contoh dari psikologinya. “Jadi dari manusianya bagaimana kita bekerja tapi kita tidak mengeluh, kita tidak merasa capek, merasa lelah, merasa jenuh karena kita bukan kerja kita itu hobi tapi dibayar itu salah satu dari aspek psikologinya,” tambah Margaretta.

Baca juga :  Alex Noerdin Paparkan Raperda APBD 2017

Sementara itu guru besar fakultas psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Djamaludin Ancok menjelaskan beberapa tantangan MEA. Menurutnya MEA  menghilangkan secara signifikan hambatan-hambatan kegiatan ekonomi lintas ASEAN.

Menurut Djamaludin MEA diimplementasikan melalui 4 pilar, yaitu: ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional (single market and production base) dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas. ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global (integration into the global economy) dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.

Baca juga :  Melalui Sektor Pertanian, Sumsel Turunkan Angka Kemiskinan

ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi yang tinggi (competitive economic region), dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan e-commerce.  ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata (equitable economic development) dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, dan prakarsa integrasi ASEAN untuk negara-negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos, dan Vietnam.

“MEA menjadi dua sisi mata uang bagi Indonesia Satu sisi menjadi kesempatan yang baik untuk menunjukkan kualitas dan kuantitas produk dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia kepada negara-negara lain dengan terbuka, tetapi pada sisi yang lain dapat menjadi boomerang untuk Indonesia apabila Indonesia tidak dapat memanfaatkannya dengan baik,” paparnya.


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita