oleh

Nasib Petani Kelapa Terancam Larangan Ekspor

Kolom:Ekonomi, Headline|10 kali dilihat

NUansaKita – Banyuasin : Ketua Perhimpunan Petani Kelapa Indoensia (PERPEKINDO), Muhaemin Tallo mengatakan bahwa kondisi petani kelapa Indonesia terancam dengan adanya wacana pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pelarangan ekspor kelapa butir.

Hal itu disampaikannya saat memberi sambutan dalam acara pembukaan pelaksanaan memajukan sektor kelapa untuk kesejahteraan rakyat Indonesia di desa Teluk Payo Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Sumsel,  (16/11).

Menurut Tallo, kelapa sebagai sumber penghasilan tetap petani di wilayah Banyuasin II dan di Sumatera Selatan, untuk itu perlu perhatian khusus petani kelapa terutama tentang tata niaga kelapa.

Tallo mengungkapkan bahwa wacana pelarangan ekspor kelapa bulat perlu dikaji lebih mendalam, karena menurutnya hal itu sangat merugikan petani. Padahal pelaku eksportir itulah yang membuat harga membaik ditingkat petani.

Baca juga :  Sky Bridge Bandara SMB II Dipastikan Selesai Sebelum Asian Games

Pelarangan ekspor akan merugikan petani kelapa, karena dipastikan harga kelapa butir akan turun. Selain itu, perusahaan dalam negeri juga tidak akan mampu menyerap seluruh hasil produksi kelapa dalam negeri yang melimpah.

Industri dalam negeri tidak sanggup menampung semua buah kelapa masyarakat dan kesiapan industri kita perlu dipertanyakan,” Ujar laki-laki berdarah Sulawesi ini.

Tallo membantah alasan keluhan industri masalah kekurangan bahan baku karena ekspor. Itu tidak benar, yang benar adalah industri tidak bisa membeli kelapa masyarakat sesuai dengan harga pembelian eksportir.”

Kalau harga kelapa stabil ditingkat petani dan tidak ada larangan ekspor, petani siap melakukan replanting (peremajaan) sendiri kebun kelapanya tanpa meminta bantuan pemerintah.

Baca juga :  Pengangkutan Batubara di Sumsel Tetap Gunakan Jalan Khusus

Perpekindo menjamin dalam waktu 10 tahun akan selesai di replanting dengan jumlah, 2 juta hektar kebun kelapa yg sudah tidak produktif lagi itu berarti 50 ribu hektar dalam setahun,” Jelasnya

Industri kelapa di indonesia sudah puluhan tahun berdiri tetapi tidak bisa mensejahterakan petani, bahkan harga stagnan di angka dibawah 2000.

Dengan adanya ekspor kelapa bulat, petani belakangan ini sudah mulai sejahtera karena eksportir berani membeli harga tinggi harga saat ini di kisaran 3000 – 3300 /kg.

Perpekindo meminta kepada pemerintah agar bijak dalam hal ini supaya petani bisa menikmati hasil yg baik,” Tegas Tallo.

Baca juga :  Resah Belum Terima Gaji, Guru Ancam Mogok

Direktur Ekspor Hasil Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nurlaela juga mengatakan, berdasarkan hasil kunjungan lapangan ke Lampung dan Riau sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa, diketahui bahwa petani kelapa lebih senang meng-ekspor langsung daripada menjual kepada pelaku usaha karena harga yang lebih tinggi.

Selain itu Anggota DPRD Banyuasin, Arisa Lahari juga berjanji akan mengupayakan agar pelarangan tersebut tidak terjadi. Suara petani kelapa akan diteruskan kepada DPRD Provinsi Sumsel maupun DPR RI.

“Saya akan suarakan di DPRD dan DPR RI. Pelarangan ekspor akan membebani petani kelapa, padahal petani menanam tanpa ada bantuan pemerintah, dari menebang, menanam hingga bikin parit.” Terang Lahari. (sibawahi)


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita