oleh

Pendamping Desa : Dari Asap Cair (1)

Kolom:Ekonomi|74 kali dilihat

Desa Nusa Serasan patut dijadikan sebagai pusat inovasi teknologi
tepat guna untuk level desa di Kabupaten Musi Banyuasin. Dengan terobosannya,
ternyata mampu membuat Teknologi Asap Cair. Desa yang terletak di Kecamatan Sungai
Lilin ini memiliki Sumber Daya Manusia yang cukup mumpuni, senang berkarya dan
berinovasi.Desa ini cukup mudah dijangkau, hanya sekitar 300 meter dari jalan raya.

ini disampaikan ke media Nuansakita.com

Yudhi Habibi,ST, tim ahli pndamping desa mnjelaskanDesa yang luas wilayahnya sekitar 24,94 km2 ini memiliki sumber daya alam
yang cukup banyak. Mayoritas penduduk mempunyai kebun sawit dan karet. Dari latar
belakang inilah ada inovasi untuk meningkatkan kualitas hasil panen karet dengan
pemanfaatan limbah sawit. Untuk itulah mereka kemudian membuat asap cair sebagai
pengganti asam semut dalam pembekuan karet.

Bahan baku utama pembuatan Asap Cair ini adalah cangkang kelapa sawit,
batok kelapa, kayu bakar, dll. Bahan baku tersebut tersedia cukup banyak di Desa Nusa
Serasan dan sekitarnya.

Baca juga :  Dinaskertran: Tenaga Kerja Tidak Kompeten Jelas Kalah Bersaing

Jumlah penduduk desa ini sekitar 2.650 orang yang mayoritas pendatang dari
Jawa Barat. Mereka adalah transmigran zaman orde baru pada tahun 1980-an. Para
petaninya banyak yang sudah mandiri.

Kades Nusa Serasan, Bapak Rudi Hartono, sangat bersemangat membangun
desa. Termasuk mendukung berdirinya pabrik asap cair. Pabrik yang dibangun dari dana
desa tahun 2016 ini semula memiliki kapasitas produksi 40 liter perhari dengan jam
operasional 7-8 jam perhari. Bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi ini sekitar 80 kg
cangkang sawit.Kegunaan Asap Cair ini adalah untuk pembekuan getah karet, pengawet
makanan, pengawet kayu dan pembersih lantai. Sementara ini yang paling banyak
digunakan adalah untuk pembekuan getah karet.

Pabrik asap cair di desa ini sekarang dikelola oleh BUM Desa. Fajar, selaku
Direktur BUM Desa, sangat antusias untuk pengembangan lebih lanjut produksi asap cair
ini. Beberapa waktu yang lalu mereka ikut bimbingan teknis ke LIPI Subang guna
menambah keahlian dalam proses pembuatan asap cair ini. Sepulang dari Bimtek, ilmu
yang didapatkan langsung diterapkan. Mereka bisa meningkatkan volume produksi
hingga lebih dari dua kali lipat. Dengan mesin yang sama, produksi bisa digenjot hingga
100 liter perhari dengan waktu operasional pabrik 7-8 jam perhari. Luar biasa..!
Produksi ini bisa ditingkatkan bila jam opersaional ditambah. Menurut Rudi
Hartono, produksi bisa saja ditingkatkan bila pesanan bertambah. Bisa menambah jam
produksi pada malam hari. Sementara ini produksi dibuat pada siang hari saja, tidak
menutup kemungkinan pada malam hari bila pesanan meningkat.
Pasar produk ini sangat terbuka lebar. Apalagi untuk wilayah Sumatera
Selatan yang memiliki wilayah dengan perkebunan karet yang sangat banyak. Andai saja
semua petani karet, perusahaan perkebunan karet beralih dari penggunaan asam semut
sebagai pembeku karet ke asap cair, maka kapasitas produksi belum mencukupi untuk
kebutuhan tersebut.

Baca juga :  UMKM Butuh Jaringan Pemasaran

Sementara ini pasar yang ada mayoritas baru sekitar Kecamatan Sungai Lilin
sebagian sudah ada pesanan dari Kecamatan Sanga Desa. Beberapa pesanan juga datang
dari kecamatan lain sekitar Kabupaten Musi Banyuasin.
Secara Teknis, pencampuran produk asap cair untuk pembekuan karet adalah
1 liter asap cair dicampur dengan 10 liter air dapat membekukan 500 kg karet. Kelebihan
asap cair ini dibandingkan asam semut adalah tidak berbau menyengat, hasil karet lebih
bersih dan putih, kualitas karet lebih bagus.

Proses produksi sementara ini berjalan cukup baik. Hanya saja beberapa
kendala yang kadang terjadi adalah listrik yang sering padam sehingga dapat
menghambat proses produksi. Listrik digunakan untuk memompakan air pendingin pada
proses kompresi dari asap menjadi cair. Proses ini sangat vital dalam pembentukan asap
menjadi cair.

Baca juga :  Modal Rp. 100 Ribu, Gadis Ini Jadi Jutawan

Secara umum proses pembuatan asap cair adalah dengan membakar bahan
bakar berupa cangkang sawit / batok kelapa pada tungku. Asap hasil pembakaran
disalurkan melalui pipa-pipa menuju proses pendinginan. Hasil proses ini sebagian
menjadi cair dan ditampung pada alat penampung berupa derijen. Sebagian lagi menjadi


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita