oleh

Produk Komoditi Sumsel Susah Tembus Pasar Internasional

Kolom:Ekonomi|3 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Selatan, Permana saat membuka kegiatan Diseminasi misi dagang atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) negara tujuan ekspor/import terakreditasi di hotel Grand Zuri, Selasa (18/10), mengungkapkan bahwa provinsi Sumatera Selatan memiliki banyak produk komoditi unggulan yang bisa menembus pasar internasional. Namun, hingga saat ini ada beberapa kendala yang dihadapi pelaku usaha.

Menurut Permana, kendala pertama yang dihadapi yakni standar produk komoditi Sumsel belum sesuai dengan keinginan negara tujuan ekspor.

“Ada 14 komoditi unggulan Sumsel.Seperti karet, kopi, sedangkan kalau tambang seperti batubara tetapi keluhan yang kita hadapi saat ini produk kita belum mencukupi standar yang ditetapkan negara tujuan ekspor sehingga permintaan pasar berkurang,” ujarnya.

Baca juga :  Temui Sekjen Kementerian Pertanian, Gubernur Deru Bahas Harga Getah Karet

Meskipun, Sumsel memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah tetapi yang menjadi kendala kedua yaitu proses akomodasi pendistribusian produk komoditi tersebut masih mengalami kesulitan dikarenakan Sumsel belum memiliki pelabuhan sendiri dan minimnya moda transportasi untuk mendistribusikan produk ke luar Sumsel.

“Banyak permasalahan yang dihadapi dalam ekspor kopi ke Mesir atau negara lainnya, salah satunya kita tidak mempunyai outlet disana. Selain itu pengiriman kopi melalui pelabuhan Tarahan Lampung melalui jalur darat dengan mobil kecil, sehingga tidak efisien,” ungkapnya.

Selain itu, disisi lain yang menjadi kendala ketiga yakni produk komoditi Sumsel masih mengalami kelemahan dalam daya saing pengemasan produk.

Baca juga :  Ishak Mekki : Bangun Rumah Cepat, Murah dan Aman, Masyarakat Bisa Gunakan Vframe Building System

“Kelemahan kita kalah dalam segi packaging, padahal ini merupakan hal penting karena berkaitan dengan penampilan produk, yang menjadi kendala bagi pengusaha kecil adalah biaya packaging yang terbilang mahal, jadi upaya yang kita lakukan yaitu mengusahakan kerjasama antara pengusaha kecil dan besar agar biayanya lebih ringan,” ucapnya.

Kendala keempat, tambah Permana, yakni proses perizinan usaha terbilang cukup rumit, berbeda dengan negara lain seperti negara Singapura yang memudahkan legalisasi dan license dengan cepat.

Ditambahkannya, perdagangan Sumsel masih melalui Singapura akan lebih baik kalau langsung. Permasalahan perizinan membuat produk Sumsel kalah bersaing bila di bandingkan dengan Singapura yang tidak mempunyai Sumber daya tetapi perizinannya terbaik kedua di dunia setelah Kota London Inggris.

Baca juga :  Stok Beras Bulog Divre Sumsel Hanya untuk 7 Bulan

“Seperti Korea, Thailand, China dengan mudah masuk pasar Eropa, kita masih terkendala bagi UMKM tidak sanggup oleh karena itu menggaet pengusaha besar untuk bermitra,melalui CSR nya, melalui pihak ke 3, melalui BUMN. Sudah ada badan promosi nasional, kalau dibebankan kepada daerah kita tidak akan mampu walaupun komoditi kita seperti tenun sudah bagus,” ujarnya.

Jadi, sambung Permana, Usaha komoditi di Sumsel bisa mencapai dan bersaing ditingkat nasional jika para pelaku usaha bisa meningkatkan kualitas produk serta pengemasannya sesuai standar negara tujuan ekspor dan juga didukung dengan fasilitas akomodasi pendistribusian yang memadai serta kemudahan perizinan yang diberikan oleh pemerintah. (juwita).


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita