oleh

PENA 98 Sumatera Selatan Dan Aktivis Lintas Generasi Tolak Capres Pelanggar HAM

Kolom:Headline|4 kali dilihat
NuansaKita – Palembang : Menyikapi perkembangan situasi politik terkini dimana masyarakat dihadapkan pada Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif yang akan menentukan arah bangsa 5 tahun mendatang, maka kami dari Persatuan Nasional Aktivis 1998 (PENA 98) Sumsel merasa perlu untuk menentukan sikap dan pandangan politik kami. Hal ini disampaikan dalam konfrensi pers kepada media di Palembang, Kamis, 14 Maret 201^
Bahwasanya pemimpin Indonesia harus bersih dari catatan kelam pelanggaran HAM dan dosa – dosa masa lalu. Karena keterkaitan bahkan keterlibatan Capres dalam kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu akan menjadi contoh buruk bahkan ancaman bagi masa depan demokrasi, negara dan rakyat Indonesia, Jelas M. Iqbal sebagai juru bicara.
Kami tidak ingin, anak-anak kami harus mengalami peristiwa-peristiwa berdarah, penculikan, intimidasi, teror dan penindasan serta pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia lainnya yang terjadi di masa lalu.
Kami tidak sudi, bangsa ini mengotori sejarahnya dengan membenarkan pelanggar HAM terbebas dari hukuman dan bahkan dibiarkan menjadi pemimpin di negeri ini.
Kami tidak mau, masa depan bangsa ini harus diserahkan ke tangan orang yang berlumuran darah saudaranya sendiri.
Kami ingin, anak-anak kami, generasi muda saat ini bisa mewarisi negeri yang mampu memberikan keadilan, menegakkan hak asasi manusia dan terbebas dari mimpi buruk masa lalu.
Bahwasanya pemimpin Indonesia bukanlah dari segelintir orang yang menguasai lahan untuk kepentingan sendiri di tengah kemiskinan jutaan orang lainnya. Tuan-tuan tanah, yang mengkooptasi lahan negara dan menguasainya untuk kepentingan pribadi tidaklah layak menjadi Capres di negeri ini.
Kami yakin, ketika seorang Tuan Tanah dibiarkan menjadi pemimpin di Republik Indonesia, maka ketamakan dan kehausannya akan harta dan kekuasaan akan semakin merajalela, menurut Jaymarta yang merupakan aktivis 98 Palembang.
Kontestasi politik pada pilpres kali ini sejatinya pertarungan politik masa lalu dan masa kini. Masa lalu menampilkan orang orang yang terkait erat dengan cendana, menantu hingga mantan jongos Cendana. Yang ingin mengembalikan kejayaan keluarga Cendana dengan mengusung jargon jargon orde baru. Sementara masa kini adalah generasi milenial yang anti terhadap korupsi dan kolusi, generasi yang anti menghalalkan segala cara demi kekuasaan.
Ketika Keluarga Cendana berkuasa di era Orde Baru banyak sekali memperaktekan kekuasaan otoriter melalui kebijakan pemerintah. Seperi pelegalan judi melalui SDSB, Pembredelan Media Massa, Pembungkaman suara mahasiswa sampai dengan penguasaan ekonomi melalui praktek2 korupsi. Serta banyak lagi praktek2 kejahatan ekonomi yang dilakukan keluarga Cendana melalui tangan negara di masa pemerintahan Orde Baru.
Untuk itu kami sepakat PENA 98 Sumsel untuk tetap mendukung calon presiden dan wakil presiden 2019 yang bukan bagian dari masa lalu, bukan pelanggar HAM dan Tidak bagian dari Keluarga Cendana. Calon yang kami usung mempunyai komitmen terhadap cita-cita perjuangan kami dalam agenda reformasi 98. Calon pemimpin itu ada pada pasangan no urut 01 Joko Widodo-KH.Mahruf Amin, Pungkas Bambang Purnomo.
Baca juga :  Hadiri RUPS Luar Biasa, Alex Noerdin Apresiasi Kinerja BSB

Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita