oleh

Tumbangnya Petahana Dalam Pilkada

Kolom:Headline|599 kali dilihat

Tumbangnya Petahana Dalam Pilkada
Oleh: Mohd. Kurniawan*

 

Melihat pilkada di tengah pandemi ini. Haruslah kita apresiasi kepada pihak penyelenggara bahwa telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat yang bertujuan agar tidak tersebar nya virus yang sedang mewabah ini menjadi cluster baru.

Pilkada 2020 telah usai yang terkhusus di Sumatera Selatan, penyelenggara sedang sibuk – sibuknya merekapitulasi hasil suara masing – masing calon. Keputusan resmi pemenang yang sah adalah hasil putusan dan pengumuman yang dikeluarkan oleh KPU . Selain KPU ada lembaga survey yang juga melakukan hitung suara cepat (Quick Count) yang bisa di jadikan referensi awal yang dalam hitungan hari sudah dapat di ketahui siapa pemenang nya versi lembaga survey. Jarang sekali lembaga survey meleset dalam memprediksi pasangan calon yang akan menang. Apalagi jika lembaga tersebut sudah teruji dari beberapa pemilu yang sudah di selenggarakan. Juga tidak kalah ketinggalannya adalah perhitungan masing – masing tim sukses di setiap TPS pemilihan.

Baca juga :  485 Rumah Sakit di Indonesia Kini Terapkan Pendaftaran Online

Pada pilkada ini adalah proses untuk melanjutkan demokrasi kita, bahwasanya demokrasi adalah benar – benar harapan kita dalam mewujudkan kesejahteraan itu. Proses demokrasi pilkada ini adalah yang nantinya akan melahirkan ‘raja – raja’ baru di setiap daerah yang akan di pimpin. Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang lahir dari rahim rakyat, Kemenangan bagi kepala daerah sudah memang seharusnya adalah kemenangan rakyat mereka di daulat oleh rakyat untuk menjadi pemimpin di daerahnya bukan raja yang harus di layani, atau di jamu setiap kehadirannya, namun jadilah pemimpin yang siap melayani keinginan rakyat, rasakan kesulitanya, berbaurlah dengan rakyat, hadirlah menjadi solusi dalam setiap permasalahan yang di hadapi rakyat. Bukan menjadi penindas, penghisap ataupun pengkhianat demokrasi yang di daulat oleh rakyat.

Baca juga :  Adian : Soeharto Bapak Tenaga Kerja Asing

Pasca hari pencoblosan dan ketika melihat perhitungan cepat dari beberapa lembaga survey yang melakukan hitung cepat, ada yang menarik terhadap geopolitik pilkada yang sedang terjadi di sumatera selatan. Fenomena yang terlihat adalah tumbangnya beberapa petahana yang mewarnai jalannya demokrasi pilkada. Ini sangat menarik harus saya katakan bahwasannya petahana harusnya mendapatkan peluang lebih besar dalam melanggengkan kepemimpinannya. Namun justru yang terjadi di beberapa daerah, petahana roboh dan tumbang dan tidak mampu meraih kepercayaan rakyat kembali. Ada yang kalah tipis dan ada yang kalah telak. ya benar inilah demokrasi, rakyat yang mempunyai kuasa dan berhak untuk memilih dan mendaulat pemimpin.

Ketika rakyat memiliki keinginan maka segala proses dalam demokrasi itu dapat terjadi. Kekalahan petahana dapat menjadi pertanyaan besar, apa yang mereka perbuat di daerahnya, apa yang mereka perbuat untuk rakyat.  Sudahkah mereka dekat dengan rakyat, sudahkah mereka menjalankan perintah rakyat dan sudahkah mereka menunaikan janji – janji kampanyenya. Kekalahan petahana dalam pilkada ini adalah sebuah ‘pil pahit’ yang harus di terima bagi dirinya, rakyat sudah tidak percaya akan kepimimpinannya dan pemerintahan yang di jalankannya. Maka yang harus di garis bawahi jangan sekali – kali mencoba mengkhianati suara dari rakyat.

Baca juga :  Akibat Kurang Sosialisasi Program Asuransi Pertanian Kurang diminati Petani

Bangunlah peradaban mereka, sejahterakanlah mereka, menjadi kepala daerah bukan untuk memperkaya diri, atau membagi kekuasaan kepada sanak keluarga dan juga membatasi interaksi kepada rakyat. Masih banyak permasalahan di tengah rakyat yang harus diselesaikan. Tidak cukup dengan senyuman atau hanya berkunjung ke daerah – daerah tanpa catatan.

*Ketua Dema Pospera Sumsel
Mahasiswa Program Strata 1
Politik Islam UIN Raden Fatah Palembang


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita