oleh

Kasus Pembunuhan Tahanan Polres Tobasa Madeg/ Keluarga Almarhum Andi Pangaribuan Mengadu ke DPRD Sumut

Kolom:Hukum|32 kali dilihat

NuansaKita – Medan : Benni Pangaribuan, abang kandung almarhum Andi Pangaribuan didampingi Ketua Pospera Sumut, Liston Hutajulu mendatangi anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut), Sutrisno Pangaribuan. Kedatangan mereka untuk mengadukan laporan kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan tewasnya Andi di dalam sel tahanan Polres Tobasa.

“Kami tidak tahu lagi harus mengadu ke mana lagi. Karena kasus ini sudah sangat larut. Kejadiannya sudah kami laporkan sejak tanggal 30 September 2015, tapi Polda Sumut dan Kejati Sumut seperti berleha-leha,” kata Benni kepada Sutrisno, Selasa (1/3) jam 15.00 WIB di ruang Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut.

Benni juga memperlihatkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) kepada Sutrisno. Dalam SP2HP bernomor B/609/VI/2016/Ditreskrimsus tanggal 9 Juni 2016 itu, penyidik menyatakan bahwa sudah ada 2 anggota Polres Tobasa yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Andi. Surat yang ditandatangani Kasubdit III Jatantras ini menyatakan Linton Candra Panjaitan dan Marco Panata Purba, anggota aktif Polres Tobasa sebagai tersangka.

Baca juga :  Gedung Assessment Center Polda Sumsel Diresmikan

“Tapi setelah mereka jadi tersangka yang menyebabkan adik saya mati, tapi para tersangka ini tidak kunjung ditahan. Kejatisu juga sudah mengembalikan berkas ke Polda dengan alasan belum lengkap, nah sekarang sudah dikembalikan, mereka kembali beralasan sedang diteliti,” sambung Benni.

Sementara Ketua Pospera Sumut, Liston Hutajulu mengaku sangat kecewa dengan sikap penyidik Poldasu dan Kejatisu. Liston menyebut bahwa kasus ini terindikasi melibatkan nama besar yang membuat kasus ini memang sengaja diperlambat sehingga pada akhirnya akan menguap lalu kemudian dilupakan.

“Persoalan ini sudah kami sampaikan ke Komisi III DPR RI. Bahkan kami sudah bicara langsung dengan Masinton Pasaribu. Bahkan beliau berjanji akan turun langsung membawa Komisi III turun ke Tobasa. Tapi tidak ada juga terealisasi hingga sekarang. Bahkan kasus ini juga sudah kami laporkan ke Komnas HAM. Tapi sama saja. Ini indikasinya bahwa ada kekuatan besar yang melindungi orang-orang yang terlibat di dalamnya,” kata Liston.

Baca juga :  Lama Tersumbat, Persoalan Aset Golf Kenten Pertamina Temui Titik Terang

Oleh karena itu, dia membawa persoalan ini ke DPRD Sumut dengan harapan akan dibawa ke Rapat Dengar Pendapat (RDP). Rencana itu disambut Sutrisno Pangaribuan. Menurutnya, persoalan ini juga harus menjadi perhatian publik di tengah ketidakpastian hukum yang dihadapi masyarakat.

“Kita memang sudah mengawal kasus ini sejak awal. Jadi kita setuju dengan langkah Pospera menyurati DPRD Sumut agar dibahas dalam alat kelengkapan dewan yang melibatkan para pihak. Jadi nanti akan terlihatlah bagaimana proses hukum yang dilakukan penyidik Poldasu dan Kejatisu,” ujarnya.

Baca juga :  Hendri Zainudin : Kita Terus Lakukan Komunikasi Dengan DPD diberbagai Daerah.

Sutrisno juga menambahkan, jika Kejatisu mengalami kesulitan dalam meneliti kasus ini, maka Sutrisno menyebut bahwa keluarga akan menyiapkan para ahli.

“Jika Kejatisu kesulitan meneliti kasus ini, maka keluarga akan menyiapkan ahli pidana agar kasus ini berjalan lancar,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Andy Pangaribuan ditangkap anggota Polres Tobasa pada medio September 2015 silam atas dugaan kasus narkotika. Namun berselang beberapa hari, keluarga dikabari bahwa Andy tewas gantung diri di dalam sel. Tapi keluarga menemukan beberapa kejanggalan sehingga dicurigai bahwa korban dianiaya hingga tewas lalu direkayasa seolah-olah bunuh diri. Maka dari itu, Benni Pangaribuan melaporkan hal tersebut ke Ditkrimum dan Propam Poldasu pada 30 September 2015.


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita