oleh

Monpera Diharap Menjadi Ruang Terbuka Untuk Anak-anak

Kolom:Pendidikan|14 kali dilihat
NuansaKita – Palembang : Sejumlah permainan tradisional mulai dari engkrang, bakiak batok, terompah panjang, congklak, hula hop, yeye, rangku alu dan lainnya kembali dipertunjukan dalam festival permainan anak tradisional ke-5 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Palembang di pelataran Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-53 Tahun 2019, Minggu (21/07).
Dalam sambutannya ketika membuka festival ini tradisional itu, Gubernur Herman Deru mengapresiasi digelarnya festival permainan anak tradisional dalam rangkaian peringatan HAN ke-53 Tahun 2019.
“Saya tertarik untuk hadir pada kegiatan festival permainan anak tradisional ini, karena saya anggap ini bentuk perhatian Pemkot Palembang terhadap pentingnya tumbuh kembang anak secara wajar dan sehat. Bukan hanya tumbuh fisik saja, namun juga intelektualitas dalam pergaulan,” tegas dia.
Menurutnya banyak nilai edukasi yang terdapat dalam permainan anak tradisional, mulai dari engkrang, bakiak batok, terompah panjang, congklak, hula hop, yeye, rangku alu dan lainnya yang bagi sebagian besar orang dianggap sebagai permainan kampungan, padahal permainan tersebut telah ada sejak zamanan leluhur terdahulu.
“Permainan ini sebenarnya adalah olahraga yang telah ada sejak lama, yang di dalamnya terdapat nilai edukasi bagi anak-anak. Seperti nilai silaturahmi karena dalam permainan tersebut anak-anak berjumpa dan bermain bersama teman-temannya, kemudian olah pikir karena pikiran digunakan untuk hal yang positif dan olah fisik sebab saat bermain anggota tubuh bergerak yang secara otomatis mengeluarkan keringat”, beber dia.
Dilanjutkan Deru tumbuh kembang anak merupakan tanggung jawab semua pihak dan melibatkan semuanya mulai dari Pemprov, Pemkot hingga masyarakat. Karena  jika kita tidak memiliki kepedulian terhadap anak lanjut dia, dikuatirkan anak-anak jaman sekarang (kids zaman now) akan menjadi manusia anti sosial.
“Saya kuatirkan jika anak-anak ini tidak bersosialisasi secara fisik dengan teman sebaya atau lingkungannya, mereka akan menjadi manusia yang tidak peduli. Kids jaman now lebih asik dengan dunianya sendiri berkutat dengan gadget/androidnya,” jelas dia.
Di sisi lain tambahnya, jika permainan nasional tidak lagi dipertontonkan pada anak zaman sekarang. Bukan tidak mungkin permainan anak tradisional kian tergerus oleh kemajuan zaman dan terlupakan akhirnya hilang tanpa bekas. Untuk itu pada festival permainan anak tradisional yang ke-5 ini, ia berharap lapangan Monpera kedepan sebagai ruang terbuka untuk anak.
“Pemprov bersama Pemkot Palembang  dapat bekerjasama menjadikan Monpera sebagai ruang terbuka untuk anak. Silakan kerjakan desainnya, nanti kita bantu,” papar Gubernur.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Palembang sekaligus Ketua Pelaksana festival permainan anak tradisional, Isnaini Madani mengatakan kegiatan ini dilakukan sebagai rangkaian peringatan HAN yang ke-53, dan festival permainan anak tradisional telah memasuki pelaksanaan tahun ke-5.
“Festival permainan anak tradisional ini dilaksanakan agar anak-anak lebih mengenal permainan yang mengutamakan ketangkasan ragawi, dan hampir terlupakan,” ungkap Isnaini.
Ditambahkannya dipilihnya lokasi festival permainan anak tradisional di Monpera karena Monpera adalah lambang perjuangan sekaligus untuk mengenalkan nilai-nilai perjuangan para pahlawan kepada anak-anak.
“Pada festival permainan anak tradisional ini digelar juga lomba-lomba, seperti lomba beregu putra bentengan, beregu putra tarik tambang, beregu putri tapak panjang, perorangan putri bakiak batok, balap karung, yeye, dan cak ingkling,” tukasnya. Rip
Baca juga :  Soal Keringanan Biaya Kuliah, Ini Tanggapan Perguruan Tinggi di Sumsel

Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita