oleh

Akhir 2019, 25 Juta Hektar Wilayah Strategis di Sumsel Bebas Dari Banjir

Kolom:Peristiwa|1 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Manajemen Unit Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP), Muhanuddin mengungkapkan ada tiga sektor yang diutamakan dalam percepatan pembangunan sanitasi yakni, pengelolaan air limbah, sampah dan drainase. Dari ketiga sektor yang lebih banyak dibahas adalah air limbah.

“Untuk drainase seharusnya dalam program yang masuk ke sanitasi kabupaten/kota. Untuk sosialisasinya harus mengangkat kearifan lokal, Palembang ini kan dari dulu sejarahnya kota air, jadi saya pikir kalau hujan sebentar itu belum dikatakan banjir. Kalau nanti begitu menggenangnya tidak lebih dari dua jam akan surut, yang merugikan itu kalau mengenangnya sampai dua jam lebih dan berdampak pada sektor ekonomi masyarakat itu yang dikatakan banjir,” paparnya, Rabu (05/10).

Baca juga :  Tinjau Pelunasan BPIH 2019, Kemenag Sebut Belum Temui Kendala

Hal tersebut merupakan salah satu target di Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), pada tahun 2019 akhir dan awal tahun 2020, terdapat 25 juta hektar wilayah strategis perkotaan akan dibebaskan dari banjir. Palembang diharapkannya membuat program untuk menormalisasi sungai.

“Kita akan ada program-program sanimas dalam rangka untuk menjawab sanitasi kumunal. Masyarakat yang tinggal di perkotaan, di bantaran sungai agar tidak langsung membuang air limbah di sungai tetapi diolah terlebih dahulu sehingga layak dibuang sesuai ketentuan lingkungan hidup,” jelasnya.

Baca juga :  ODP Center Jakabaring Dipastikan Siap Beroperasi

Apalagi, sambungnya, kebiasaan buang air besar di sungai bukan budaya tetapi kebiasaan buruk yang dapat diperbaiki, sementara budaya adalah sesuatu yang baik.

“Jadi sekali lagi, bahwa itu tugas kami sebagai pemerintah untuk memberdayakan bahwa kebiasaan masyarakat buang air besar di sungai itu tidak bagus, dan program ini menyentuh kesana, tidak hanya infrasukturnya tapi memperdayakan manusiannya dan merubah perilakunya,” ungkapnya.

Ditambahkannya, masyarakat berbudaya mempunyai ciri, masyarakat akan menggunakan fasilitas yang diberikan, selanjutnya akan merawat fasilitas tersebut dan pada akhirnya akan berkorban dana untuk memenuhi kebutuhannya.(juwita).

Baca juga :  Hari Bhakti PU Ke-74, Ini Pesan Sekda Sumsel

Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita