oleh

Cegah Karhutla 2017, BRG Indonesia Manfaatkan Alat Water Logger

Kolom:Peristiwa|0 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Untuk menciptakan tenaga-tenaga terampil yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam memanfaatkan alat water logger telemetri, Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia bekerjasama dengan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) menyelenggarakan kegiatan Training of Trainers (TOT)  di hotel 101 Palembang, Kamis (09/02).

Water logger telemetri merupakan alat yang dimanfaatkan untuk memantau secara langsung  parmeter tinggi permukaan air lahan gambut  dan melakukan perluasan restorasi gambut   yang bertujuan untuk mencegah agar tidak terjadi karhutla di tahun 2017.

Baca juga :  Pemegang Izin Perhutanan Sosial Diingatkan Harus Tepat Sasaran 

Dr. Haris Gunawan, Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG mengatakan, kegiatan ini untuk mempersiapkan trainer yang handal dalam mengelola lahan gambut dan bisa memanfaatkan teknologi yang telah disiapkan.

“Kita harapkan setelah pertemuan ini bisa menjadi instrukstur disetiap kegiatan pengelolaan lahan gambut,” katanya.

Dijelaskan Haris, alat water logger telemetri sudah ditebar sebanyak 20 buah bagi provinsi Sumsel, Riau dan Kalimantan Tengah. Namun, Haris mengatakan Sumsel menjadi provinsi pertama yang melakukan kegiatan Training of Trainers.

“Pengembangan alat ini sudah kita pasang 20 alat pada 2016 dan bisa kita pantau menggunakan  sd card secara langsung,  kedepannya untuk Sumsel akan ditambah 4 alat lagi di,” jelas Haris.

Baca juga :  Antasari Azhar : Saya Tidak Seperti Yang Didakwakan

Sementara, Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim provinsi Sumsel, Najib Asmani mengatakan, bahwa alat water logger ini dapat memantau secara tepat tinggi permukaan air di lahan gambut dengan menggunakan indikator suhu udara.

Lebih lanjut, Najib mengatakan alat tersebut akan difokuskan untuk dipasang pada dua kabupaten yang ada. Di Sumsel yakni kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Karena memang dua daerah ini memiliki lahan gambut yang lebih luas dibanding kabupaten lain,” ungkapnya.

Ditambahkan Najib, pada 2015 lalu Sumsel juara Karhutla dan kabut asapnya, namun pada tahun 2016 Sumsel kembali menyabet juara yang berbeda yakni menurunkan persantes Karhutla menjadi 99,87 persen dari tahun sebelumnya.

Baca juga :  Mapala Gema Persada Bersihkan Sungai Aur

“2017 ini kami berharap menjadi 100 persen tidak terjadi Karhutla lagi, dan semoga dengan adanya alat water logger ini bisa membantu dalam mewujudkan keinginan kita,” harapnya.


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita