oleh

Dokter Spesialis Okupasi Di Indonesia Masih Minim

Kolom:Peristiwa|674 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Indonesia masih kekurangan perguruan tinggi yang memiliki program studi dokter spesialis okupasi, sehingga menyebabkan keberadaan dokter spesialis yang menangani tenaga kerja khususnya untuk bidang keselamatan dan kesehatan pekerja dinilai masih sangat minim. (3/10)

Fakta ini diakui secara langsung oleh Ketua Umum Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia (Perdoki), Dr Nusye E Zamsiar MS SpOK. Diungkapkannya, hingga saat ini cuma ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi okupasi, yakni Universitas Indonesia.

Sedangkan untuk jumlah dokter spesialis okupasi di Indonesia, hanya berkisar 200-an. “Untuk mengantisipasi ini kita akan buka prodi khusus okupasi di salah satu perguruan tinggi di Makasar,” katanya.

Baca juga :  Syamsul Bahri Resmi Jabat Kadin PU Pengairan

Sementara itu, Ketua Perdoki Sumsel, Dr Anita Masidin menuturkan, untuk wilayah Sumsel jumlah dokter spesialis okupasi masih dalam hitungan jari. “Untuk Sumsel baru ada tiga orang, dua orang di Palembang, satunya lagi di Muaraenim,” ungkapnya.

Lanjut Anita, untuk membuka prodi tersebut di wilayah Sumsel dirasakan masih lama dan belum terpantau. “Di Sumsel memang belum ada, minimal harus ada lulusan strata tiga (S3), tapi sekarang hanya ada lulusan S2. Jadi masih sangat lama untuk membuka prodi ini di Sumsel,” tutupnya. (juwita)

Baca juga :  Iskandar Resmi Jabat Bupati OKI Periode 2019-2024

 


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita