oleh

Kekerasan Seksual Di Sumsel Kategori Garis Merah

Kolom:Hukum, Peristiwa|2 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Sumsel dalam warning garis merah perihal kekerasan seksual. Terhitung, tingkat kekerasan itu pada tahun 2016 ini meningkat sangat tajam. Bahkan, mendominasi 52 persen dari kejahatan-kejahatan yang lain. Hal itu disampaikan oleh Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), saat mengunjungi Polresta Palembang, Sabtu (29/11).

Arist menjelaskan, kekerasan seksual di Sumsel cenderung meningkat. Bahkan, Sumsel masuk dalam 10 besar provinsi rawan kekerasan seksual terhadap anak dan remaja. “Kalau kita bilang kerawanan ini dengan sebutan garis merah. Aritnya, kasus ini sangat mengkhawatirkan,” Jelas Arist.

Untuk peringkat pertama, Arist mengatakan. Jakarta dalam urutan teratas, dikuti Jawa Timur, Jawa Barat. “Selanjutnya didaerah timur Indonesia seperti NTT dan NTB. Sedangkan Medan berada diperingkat Sembilan,” Tambah Arist.

Baca juga :  Puasa Hari Kedua, Sekda Lanjutkan Sidak ke OPD-OPD

Kekerasan Seksual ini, Ungkap Arist. Banyak menyasar kepada anak-anak dan para remaja putri. “Korbannya rata-rata berusia 10-14 tahun,” Ucap Arist.

Contohnya, lanjut Aris. Yang terjadi di daerah OKI beberapa waktu lalu. Ditemukan dua orang anak dalam keadaan tak bernyawa didalam sebuah empang. “Setelah diselidiki ternyata sebelumnya sudah menjadi korban kekerasan seksual,” Beber Arist.

Bahkan tambah Arist. Kasus kekerasan Seksual di Sumsel sudah mencapai 2000 an kasus. “2000 kasus pemerkosaan terhadap anak sudah terjadi. dan itu tidak terekspos sama sekali. Bahkan, diantar mereka sebanyak 200 korban mengalami depersi dan gangguan jiwa. Data itu didaptkan langsung dari Rs Jiwa di Sumsel,” Jelas Arist.

Baca juga :  Paripurna DPRD Sumsel Setujui 7 Raperda

Pemicu meningkatnya kekerasan ini, Lanjutnya lagi. Semua karena kecanggihan teknologi. Sehingga, kemajuan ini mengakibatkan arus pronografi sulit sekali untuk dibendung. Bahkan, tumbuh subur. “Teknologi sehingga digunakan oleh para remaja atau pemuda yang gejolak birahinya masih berapi-api. Lalu, akibat menonton atau mengonsumsi pornografi, mereka mencari pelampiasan nafsu yaitu dengan melakukan kekerasan seksual terhadap anak dan remaja,” Tambah Arist.

Arist menambahkan, kemajuan teknologi memang ada hal positif, Namun, sekarang cendrung berdampak negatif. “Kalau kami sebut ini namanya Tsunami teknologi,” Ujar Arist.

Baca juga :  Herman Deru Didaulat Jadi Narasumber Koordinasi Nasional Transmigrasi 2019 

Untuk mencegah terus terjadinya kekerasan ini, kata Arist. Pihak KPAI sedang menggarap sebuah program yang disebut gerakan perlindungan anak sekampung. “Gerakan ini nantinya sebagai sarana pencegahan dan deteksi secara dini terhadap munculnya kekerasan seksual,” Ucapnya.

Selain itu, gerakan ini sebagai sarana untuk mensosialisasikan undang-undang perlindungan anak, yang selama ini belum menjangkau daerah-daerah kampung dan pelosok-pelosok. “nanti kita minta kepada Gubernur untuk menggalakkan gerakan ini,” Tutup Arist Merdeka Sirait. (sibawaihi)


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita