oleh

Kendala Akses, Komoditi Sumsel Tidak Dapat Diekspor

Kolom:Ekonomi, Peristiwa|14 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ir. Permana mengeluhkan komiditi Sumsel yang tidak dapat diekspor sepenuhnya karena kendala akses.

Menurutnya, mekanisme ekspor Sumsel umumnya menggunakan sistem Free on Board, di mana eksportir atau penjual barang hanya memiliki kewajiban untuk membayar biaya pengiriman barang sampai pada pelabuhan. Selebihnya, saat barang sudah berada di kapal, biayanya ditanggung oleh importir (pembeli).

Diketahui, sebagian besar komoditi ekspor Sumsel diangkut melalui pelabuhan Boom Baru Palembang, sedangkan batubara sebagian diangkut melalui pelabuhan Tarahan, kabupaten Lampung Selatan.

Baca juga :  Gubernur Deru Pimpin Apel HAB Ke-73 di Griya Agung

Permana mengungkapkan, dirinya ingin pelabuhan Tanjung Api Api (TAA) segera rampung agar dapat mengangkut komoditi Sumsel yang selama ini banyak dipesan importir dari berbagai negara. Namun sayangnya, tidak semua permintaan importir dapat dipenuhi karena pelabuhan yang selama ini jadi andalan, kapasitasnya terbatas.

“Saya ingin pelabuhan TAA cepat selesai biar ekspor kita meningkat. Sudah 14 gubernur ingin bangun TAA, tapi tidak jadi-jadi. Padahal banyak lho permintaan komoditi Sumsel dari luar, cuma karena keterbatasan akses tadi,” katanya saat memberikan sambutan pada acara Palembang Insight bertajuk “Ekspor Sumatera Selatan Mendunia” di hotel Amaris Palembang, Selasa petang (22/11/2016).

Baca juga :  Petani Kabupaten Banyuasin Behasil Surplus Beras Di Masa Pandemi Covid-19 

Dilanjutkannya, ekspor barang melalui jalur laut memang sangat diandalkan karena dapat menampung barang jauh lebih banyak dibanding menggunakan transportasi darat dan udara.

“Kalau mau nunggu TAA selesai, kelamaan,” katanya lagi.

Permana mengklaim telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ekspor Sumsel, di antaranya dengan diversifikasi produk ekspor, meningkatkan nilai tambah barang, ekspansi pasar ekspor baru, promosi dan misi dagang ke luar negeri, pemberdayaan atase perdagangan terutama dengan negara yang merupakan pelanggan Sumsel, hingga sosialisasi potensi ekspor impor ke negara mitra dagang.

Baca juga :  BSB Ditunjuk Jadi ‘Bapak Asuh’ Pembina Adat Sumsel

Namun upaya-upaya tersebut menurutnya tidak membuahkan hasil maksimal. Sekali lagi, akses pelabuhan jadi kendala pihaknya dalam mengekspor barang.

“Kita tentunya mengandalkan pelabuhan. Penggunaan angkutan udara masih relatif kecil karena sifatnya ekspor invidual, seperti kain tenun, songket, jumputan. Terus ada pempek dan sebagainya. Kalau kirim batubara, gas, minyak, karet, kopi, kayu, buah, sayur, ya lewat pelabuhan lah,” tegasnya.

Disperindag memiliki sedikit catatan nilai ekspor Sumsel, di mana pada periode Januari-Agustus tahun 2016 sebesar 1.272.000 US$, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2015 yakni sebesar 1.681.000 US$. (juwita).


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita