oleh

Konflik Agraria Sebabkan Kekerasan Terhadap Perempuan.

Kolom:Budaya, Hukum, Peristiwa, Politik|39 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Kekerasan yang dialami oleh perempuan diwilayah Sumatera Selatan masih cukup tinggi. Seperti dalam konflik agraria, perempuan sangat merasakan dampak kekerasan akibat konflik agraria tersebut.

Hal itu disampaikan oleh ketua Solidaritas Perempuan (SP) Sumatera Selatan, Ida Ruri Sukmawati, dalam acara diskusi tahapan memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan di cafe 4 Sore, (5/11).

Ida mengatakan, kalau berbicara kekerasan terhadap perempuan kita lihat dulu apa sih kekerasan itu. Artinya sesuatu yang tidak nyaman yang dialami oleh perempuan. Kalau berbicara kekerasan ada berapa sih bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dialami oleh perempuan.

Pertama, adalah adanya pelabelan terhadap perempuan itu contohnya ketika perempuan pulang malam itu dianggap bahwa itu perempuan yang dalam tanda kutip bahwa perempuan itu habis melacur. Kedua, merupakan bentuk-bentuk ketidak adilan yang dialami oleh perempuan itu adalah sub ordinat, artinya adanya relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan, antara orangtua dan anak, antara pimpinan perusahaan dan pekerja. Disitu kan ada relasi kuasa, dimana itu yang marjinal, itu yang selalu dilemahkan oleh kaum yang mendominasi. Ketiga, bentuk ketidak adilan itu adalah diskriminasi. Paparnya

Baca juga :  Pemprov Alokasikan Anggaran Rp15 Miliar Untuk Kepemudaan di Sumsel

Kemudian lanjut Ida, adanya diskriminasi yang dialami oleh perempuan itu misalnya perempuan selama ini selalu dianggap bahwa posisi perempuan itu ada di nomor dua. Contoh ketika dalam rapat-rapat pengambilan keputusan dia diundang itu suaranya masih belum begitu didengar. Ketika diundang dia hanya sebagai pembuat kopi. Ke empat, adalah kekerasan fisik dan psikis. Kalau fisik itu jelas dapat dilihat tapi kalau psikis kekerasan yang tidak bisa dilihat, dalam arti sesuatu yang dialami tetapi tidak ada buktinya tetapi dihati itu dirasakan, seperti dimarah itukan psikis.
Ida juga melihat kekerasan perempuan juga terjadi dalam konflik agraria, ketika terjadi konflik itu perempuanlah yang sangat mengalami dampaknya. Kenapa, karena ketika konflik laki-laki keluar dari wilayah tersebut untuk memperjuangkan dan untuk menyelamatkan diri sehingga perempuan harus menjaga rumah, mengalami beban ganda dia harus mencari nafkah, dia harus menjaga keluarganya dan dia juga mendapatkan intimidasi. Karena ketika terjadi konflik itu aparat hadir, dengan kehadiran aparat itu perempuan merasa terintimidasi.

Baca juga :  Bawaslu Sumsel Akan Menindak Lanjuti Temuan Pelanggaran Plt. Bupati Muba

Sementara itu ketua Women Crisis Center (WCC) Palembang, Yeni Roslaini, menjelaskan bahwa diskusi ini adalah ngobrol santai dengan kelompok kaum muda baik laki-laki dan perempuan dalam rangkaian kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Itu kampanye tahunan untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Sebenarnya melalui acara ini kita ingin membangun kesadaran terhadap kaum muda mengenai apa itu kekerasan terhadap perempuan. Yaitu apa itu kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana menanganinya. Harapan kita kedepan diskusi ini terus berjalan. Pungkasnya. (sibawaihi)

Baca juga :  Pemprov Sumsel Ajak Masyarakat Sinergikan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Tradisional

Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita