oleh

Adian Napitupulu Dilarang Diskusi di Bina Graha

Kolom:Nasional|48 kali dilihat

NuansaKita – Jakarta : Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Adian Napitupulu, SH hari ini mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, ditolak masuk paspampres saat menghadiri undangan diskusi terkait freeport di Bina Graha.  Hal tersebut diungkapkan Adian Napitupulu, Jumat (17/03/2017).

“Saya ini diundang resmi untuk diskusi dan mendengarkan aspirasi Masyarakat suku Amungme oleh deputi V Kepala Staf Kepresidenan, Danny Jaleswari Pramudhawardani. Undangan itu jelas mengundang saya sebagai anggota Komisi VII DPR RI, komisi yg secara tupoksi nya sangat terkait dengan freeport. Tapi setelah saya sampai di gedung binagraha petugas disana melarang saya masuk, alasannya pelarangan itu karena saya pakai celana jeans ” tutur Adian.

Ia menilai tindakan pelarangan itu sangat berlebihan. Selanjutnya Adian menjelaskan “Pertama, Itu acara Diskusi bukan acara kenegaraan resmi. Kedua, dalam undangan sama sekali tidak disebutkan Dresscode yang harus di gunakan apakah batik, jas lengkap dengan dasi atau tidak. Tanpa Dresscode yang diwajibkan maka artinya kita boleh berpakaian bebas selama dalam batas norma dan etika kesopanan”

Baca juga :  Rapat Dengan Presiden, Gubernur Deru Laporkan Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Masih Baik

“Saya sudah tunjukkan undangan resmi, tidak ada dress code disana, dan kehadiran saya dalam kapasitas sebagai anggota Komisi VII DPR RI. Mereka tidak peduli dan tetap melarang saya masuk”

Selanjutnya saya coba menghubungi Deputi V KSP melalui telepon tapi lebih dari 3 kali saya telepon sama sekali tidak diangkat. Saya kirimkan pesan via whatsapp juga tidak direspon. Saya lalu telepon ke nomor tercantum di surat itu dan diangkat. Saya kemudian menyampaikan complain terhadap pelaranga itu. Sekitar 15 menit kemudian 2 orang staff KSP turun dan meminta saya masuk tapi ternyata tetap di tolak oleh Paspampres. Bahkan Paspampres meminta staff KSP dan saya untuk menghadap serta mohon ijin ke Danplek Bina Graha.

Baca juga :  Bandara Silampari Segera Diresmikan Presiden Jokowi

“Luar biasa aneh Istana ini. Surat yang mereka buatpun, staff yang di utus Deputi KSP, materi diskusi yang terkait kedaulatan NKRI semua tidak ada harganya di mata paspampres. Setahu saya Jokowi itu Presiden sipil yang dipilih secara Demokratis tapi sepertinya yang berkuasa di Istana bukan kekuasaan sipil.

“Disisi lain, ketika mereka melarang saya ikut diskusi itu hanya karena bahan celana yang saya pakai maka itu berarti mereka menempatkan pakaian jauh lebih penting dari Freeport dan Aspirasi masyarakat Papua. Menyedihkan, saat kita sedang berjuang untuk Divestasi Saham 51% untuk Indonesia, saat kita berjuang menegakan kedaulatan atas sumberdaya alam, pada saat yang sama Istana sibuk mempersoalkan bahan pakaian” sergah Adian. “Zaman Orde Baru saya dilarang diskusi karena materi diskusinya, zaman sekarang saya dilarang diskusi karena bahan celana yang saya pakai” lanjutnya.

“Tupoksi mereka jelas pengamanan komplek kepresidenan, bukan menjadi penilai pakaian. Standar kesopanan itu sederhana, bersih, tidak mengumbar aurat dan tidak robek sana sini” tukas adian.

Baca juga :  Presiden Jokowi Terima Obama di Kebun Raya Bogor

“Hari demi hari Istana semakin jauh dari Rakyat, semakin jauh dari pendukung pendukungnya dan tidak lagi di maknai sebagai Rumah Rakyat melainkan Istana Raja yang penuh aturan Feodal. Jika ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin nanti masuk Istana pun kita harus jalan jongkok seperti masuk istana Raja zaman dulu” keluh Adian.

“Saya sering mendengar banyak pengusaha dengan mudahnya keluar masuk komplek Istana untuk bicara investasi, dagang ini dan itu, Sementara saya datang di undang resmi, saya datang untuk berjuang menegakan kedaulatan negara bukan untuk berdagang tapi justeru saya dilarang. Mungkin kalau saya datang untuk berdagang dengan cincin emas dan jam rolex akan bisa masuk lebih mudah” ujar Adian menutup pembicaraan.


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita