oleh

Ombudsman RI Perwakilan Sumsel Awasi HET Operasi Pasar Bulog

Kolom:Peristiwa|20 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Terkait dengan Operasi Pasar (OP) yang dilakukan serentak oleh Bulog seluruh Indonesia, terhadap kelangkaan beras dipasaran, maka hari ini Ombudsman RI Perwakilan Sumsel melakukan pengawasan terhadap 4 pasar yang menjadi sasaran Operasi Pasar Perum Bulog Divre Sumsel, Babel, yaitu Pasar 16 ilir, Pasar Cinde, Pasar Lemabang dan Pasar KM 5.

Hasil dari pengawasan tersebut harga ditingkat Agen, beras OP Bulog Rp. 8.500 atau dibawah HET yang sudah ditetapkan yaitu Rp.9.350, namun beberapa pedagang mengeluhkan kualitas beras yang kurang bagus dan bulirnya kebanyakan patah. Sehingga beras ini jarang diminati.

Disamping itu juga Ombudsman RI Perwakilan Sumsel, juga melakukan peninjauan dibeberapa pasar untuk perbandingan harga terhadap beberapa kualitas beras dengan berbagai merek. Seperti di pasar induk Jakabaring, beras jenis IR 64 yang telah dikemas dalam karung dengan takaran dan merek tertentu dijual dengan harga Rp.12.500 – Rp. 13.000. sementara beras curah dijual pada kisaran harga Rp. 9.800 – Rp. 11.000.

Baca juga :  Hayono Isman : Kosgoro Tak se Glamour Dulu

Terhadap OP dari Bulog ini diharapkan kualitas beras sama dengan kualitas yang dipasaran untuk kelas medium, sehingga OP ini akan membuahkan hasil dan harga ke konsumen tidak melebihi HET yang telah ditetapkan. Maka oleh karena itu Disperindag dan Bulog harus memastikan juga harga ditingkat pengecer dibeberapa pasar yang ada dikotaPalembang.

Penyebab naiknya harga beras di pasaran, karena terganggunya pasokan dari daerah penghasil beras, salah satunya dari Belitang Kabupaten Oku Timur, Ombudsman RI Perwakilan Sumsel mendapatkan informasi dari petani dan pengumpul gabah kering giling yang berada di Kecamatan Buay Madang Timur, dalam kesempatan ini disampaikan karena gagal panen ini harga di tingkatan pengumpul Rp. 11.500 per Kg untuk jenis IR 64. Itupun pasokan sangat langka.

Baca juga :  447 Jamaah Haji Kloter 1 Tiba di Palembang

Menurut Plt Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumsel, Operasi Pasar yang dilakukan oleh Bulog jangan hanya bertujuan untuk memenuhi pasokan beras dipasaran dan menekan harga.

“Yang harus diperhatikan juga adalah kualitas dari beras itu sendiri harus bagus dan laku di pasaran,” ucapnya.

Lanjut dia, kalau beras bulog berkualitas jelek dengan bulir-bulir lebih banyak yang patah maka dengan sendirinya beras tersebut akan sepi peminat, dan tujuan untuk menstabilkan harga tidak akan tercapai.

Disamping itu Pemerintah juga harus mencari penyebab gagal panen di daerah penghasil beras seperti di Belitang, bibit yang dijual di pasaran apakah sudah aman dari virus dan potensi gangguan hama. Dalam hal ini Ombudsman RI Perwakilan Sumsel melihat ada pengabaian dari Pemerintah dan dinas terkait, terhadap persoalan penyebab gagal panen yang dihadapi petani.

Baca juga :  Pelayanan Operasional LRT Di Stasiun DJKA Dialihkan Sementara

“Jangan sampai kenaikan harga beras yang saat ini terjadi, menimbulkan persepsi publik bahwa hal ini merupakan bagian dari skenario untuk menghalalkan Import beras yang sebesar-besarnya dengan asumsi untuk menjaga stok,” tukasnya. Rip

Agen beras di Pasar 16 Ilir yang menjual beras OP Bulog, Jumat (12/01).

 


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita