oleh

Pembahasan Lahan Gambut, Menjadikan Penyelenggaraan Bonn Challenge Berbeda Dari Sebelumnya

Kolom:Peristiwa|4 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Deklarasi New York tentang Hutan (The New York Declaration on Forests) yang disepakati pada KTT iklim 2014 (the 2014 Climate Summit ) telah mendorong suatu momentum secara global untuk restorasi lebih lanjut (The Global Momentum for Restoration Further).

Momen tersebut disokong oleh lebih dari 100 pemerintah dunia. masyarakat sipil, dan organisasi masyarakat adat, termasuk perusahaan swasta. Dalam konteks ini, deklarasi termasuk dalam target The Bonn Challenge sebagai tantangan dengan suatu ambisi dan pondokan berdasarkan kebutuhan yang mendesak. perlunya suatu pernyataan untuk dikembangkannya kegiatan restorasi mencapai 150 juta hektar pada tahun 2020 dan 200 juta hektar pada Tahun 2030.

Baca juga :  Kanwil Kemenag Sumsel Launching Aplikasi Layanan Publik

Sampai saat ini, Farhat Syukri Kepala Diskominfo saat Jumpa wartawan di Bina Praja, Senin (08/05) mengatakan, the Bonn Challenge dengan komitmennya telah melestarikan lebih dari sejuta hektar hutan dan lahan yang terdegradasi di Amerika Serikat, Ruanda, El Salvador. Kosta Rika, the Brazilian Mata Atlantic: Restoration Pact, Guatemala, Republik Demokratis Kongo, Uganda, Kolombia dan Ethiopia.

“Yang membedakan Bonn Chalenge di Palembang dengan tiga kegiatan sebelumnya adalah jumlah pesertanya yang jauh meningkat, hal ini untuk menunjukkan komitmen terhadap lingkungan hidup,” jelasnya.

Baca juga :  Ir.Soekarno Tanamkan Sikap Gotong Royong

Lanjutnya, Bonn Chalenge di Palembang menpunyai perbedaan yang menyolok dalam hal permasalahan gambut yang tidak pernah dibahas sebelumnya.

“Indonesia sangat berkomitmen lebih besar tehadap lingkungan dan degradasi lingkungan. Sumsel sendiri akan merestorasi 450 ribu hektar, dengan direstorasi maka diharapkan lahan kritis yang direstorasi akan lebih diperluas,” tutupnya.


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita