oleh

Sejarah Panjang Hari Buruh Atau May Day

Kolom:Peristiwa|20 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : May Day merupakan hari buruh sedunia yang mempunyai sejarah panjang. Ditetapkannya 1 Mei sebagai hari buruh merupakan hasi perjuangan buruh pada abad ke 19 yang kehidupannya sangat buruk yang masa kerja sampai 18 jam di pabrik-pabrik sehingga berhasil menuntut masa kerja 8 jam perhari.

Pada tahun 1884 kaum Buruh Amerika Serikat mendapat tekanan dari aparat yang merupakan kepanjangan tangan dari pemodal. Pada tanggal 1 Mei 1886, 80 ribu buruh turun kejalan menyuarakan tuntutan 8 jam kerja selanjutnya mendapat respon dari buruh lainnya untuk mogok kerja.sehingga melumpuhkan pabrik, hal itu disampaikan Wakil Ketua Harian Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Sumsel, Dodi Hariyanto saat Unjuk rasa di Monumen Perjuangan Rakyat, Senin (01/05).

Baca juga :  Puluhan Pramuka Tuntut Transparansi Bantuan Dana Hibah

“Aksi pemogokan umum dan unjuk rasa ini berlanjut hingga 4 Mei 1886, hal ini tentu saja membuat kaum pemodal dan penguasa resah. Pada tanggal 3 Mei 1886 aparat polisi menembaki para buruh yang melakukan aksi unjuk rasa di pabrik McCormick dengan membabi-buta. Dalam kejadian ini empat orang buruh dinyatakan tewas, sementara korban luka-luka tidak terhitung jumlahnya,” ungkapnya.

Lanjut Dodi, Kejadian itu membangkitkan amarah kaum buruh, lalu kemudian terjadi peristiwa Tragedi Haymarket Square pada tanggal 4 Mei 1886. Pada hari itu kaum buruh menggelar aksi besar-besaran di lapangan Haymarket Square, Chicago. Tuntutannya tidak lagi hanya delapan jam kerja, tapi juga sebagai bentuk kecaman terhadap tindakan represif aparat polisi terhadap buruh.

“Demonstrasi yang berjalan damai sejak awal tiba-tiba terjadi ledakan bom dari barisan polisi yang berjaga-jaga, karuan saja kemudian polisi menembaki kaum buruh. Delapan orang buruh tewas dan ratusan orang buruh luka-luka, empat orang pimpinan serikat buruh dihukum gantung dan ratusan buruh dipenjara tanpa proses pengadilan yang adil,” jelasnya.

Baca juga :  Masyarakat Kota Pagaralam Siap Sukseskan Asian Games 2018

Kemudian pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan perjuangan kaum buruh di Amerika Serikat pada tanggal 1 Mei itu sebagai tanggal peringatan hari buruh sedunia.

“Di Indonesia hari buruh pertama diperingati pada tahun 1918 namun saat itu dilarang oleh pemerintah kolonial. Baru pada pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1951 peringatan hari buruh diperingati setiap tahun dengan penuh semangat neokolonialisme dan anti imperialisme,” katanya.

Pada pemerintahan Soharto hari buruh kembali dilarang, hari buruh diganti dengan Hari Pekerja Nasional yang diperingati setiap 20 Februari merujuk pada berdirinya Federasi BuruhSeluruh Indonesia yang merupakan satu-satunya organisasi yang diperbolehkan. Puncak dari rangkaian aksi demonstrasi dan-pemogokan kaum buruh Indonesia adalah pada tahun 2012, dan pada pada tahun 2013 akhirnya Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani Peraturan Presiden yang menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Baca juga :  Peduli Terhadap Warga Tak Mampu, MKGR Berbagi 3,5 Ton Beras

“Maka kemudian jelaslah bagi kita bahwa hari buruh adalah momentum peringatan perjuangan dan perlawanan kaum buruh terhadap penguasa yang menindas. Sejarah panjangnya mengajarkan kepada kita bahwa perbaikan nasib buruh ada pada perjuangan kaum buruh itu sendiri, bukan dari kebaikan kaum majikan ataupun pemerintah,” tegasnya.


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita