oleh

Sumarni Demi Lahirkan Anak, Pertaruhkan Nyawa

Kolom:Peristiwa|19 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Usianya masih terbilang muda. Keinginan dan impian untuk memiliki rumah tangga yang sempurna layaknya keluarga yang lain sangatlah besar. Tidak peduli sesulit dan sesakit apapun, dirinya sangatlah ingin mewujudkan imipiannya tersebut, bahkan rela mengorbankan nyawanya sekalipun.

Ialah Sumarni, wanita berusia 27 tahun yang bersuamikan Fika Basopi (30), warga RT 10 Desa Tegal Rejo Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muaraenim yang kini terbaring lemas tak berdaya karena penyakit yang dideritanya.

Sumarni didiagnosa dokter mengalami kelebihan hormon, sehingga menyebabkan salah satu bagian tubuhnya mengalami pembengkakan yang luar biasa dibagian dada layaknya tumor payudara.

Kondisi Sumarni juga diperparah karena saat ini dirinya sedang hamil kedua. Sehingga menjadi pertaruhan yang berat bagi dirinya, disatu sisi ia ingin sekali menginginkan anak dan disisi lainnya ia harus bertarung mempertaruhkan nyawanya melawan penyakit tersebut.

Pada awal pernikahan tiga tahun lalu, dirinya sempat hamil anak pertama. Namun kejadian pembengkakan seperti saat ini juga dialaminya. Dengan perasaan teramat sedih dan kecewa ia pun harus merelakan janin yang sudah dikandungnya selama tiga bulan harus digugurkan demi kesehatan dan keselamatan dirinya.

Baca juga :  Program Kemanusiaan PMI Butuh Dukungan

Setelah mengalami peristiwa tersebut, sambil ditemani suami, dirinya terus berobat dan konsultasi ke dokter terkait. Alhasil ia pun dianjurkan dokter untuk menunda momongan selama dua tahun, serta memasang alat kontrasepsi spiral pada tubuhnya.

Selama dua tahun itu dirinya tidak melepaskan spiral sesuai anjuran dokter. Setelah dua tahun dicapai, Sumarni dan suami mendatangi lagi dokter di Rumah Sakit Muhammad Husein (RSMH) Palembang untuk mengetahui dirinya sudah bisa atau belum untuk mendapatkan bayi.

Kabar gembira itu pun akhirnya datang, Sumarni dinyatakan dokter dapat melanjutkan program memiliki anak. Mendengar kabar tersebut, Sumarni pun melepas spiral didalam tubuhnya dan ia pun langsung hamil.

Bukan kegembiraan yang datang menyertai kehamilannya yang kedua ini, akan tetapi penyakit lamanya terulang dan kambuh lagi bahkan tambah parah. Seiring kandungannya yang terus memasuki usia kehamilan ditiap bulannya, pembengkakan di bagian dadanya juga ikut terus berkembang dan membesar melebihi ukuran normal.

Sejak bulan pertama dirinya dinyatakan hamil, sejak itu pula Sumarni hanya bisa terbaring ditempat tidur, hingga sekarang kandungannya memasuki usia delapan bulan. Saat ini ukuran dada Sumarni dapat dikategorikan super jumbo. Bayangkan, berat kedua bagian tubuh Sumarni tersebut mencapai 25 kilogram.

Baca juga :  HUT Korpri di Griya Agung, Alex: Kedepan Pelayanan Harus Lebih Baik

Namun, demi anak yang di kandungannya, Sumarni rela tidak melakukan operasi tumor di payudaranya.

Ditemani suaminya, demi mewujudkan keinginan memiliki seorang bayi, Sumarni rela menanggung rasa sakit di dada. Ironisnya, kalau dioperasi sekarang, janin berusia delapan bulan yang ada di kandungannya harus diangkat.

“Keinginan terbesarnya saat ini adalah anak yang dikandungnya ini bisa lahir dengan selamat, ini anak pertama kami, dan jika anak kami sudah lahir, dia siap untuk dioperasi atau diapakan biar sembuh,” kata Fiko saat ditemui di ruang IGD RSMH Palembang, Kamis (6/10).

Saat tiba di RSMH Palembang menggunakan mobil ambulance, tampak Sumarni terkulai lemas berbaring di tempat tidur. Dia sesekali meringis menahan sakit yang menyerang kedua payudaranya.

“Dia sudah gak kuat lagi untuk duduk, katanya sakit seperti ditarik-tarik. Selain itu dirasakannya berat, dadanya sesak, dan kasihan janin yang lagi di dalam perut,” ujarnya.

Baca juga :  Penanganan Covid-19 Sumsel Tetap Diupdate Secara ‘Online’ Bareng Awak Media

Dikatakan Fiko, karena sangat ingin memiliki anak, penyakit ini ditahan Sumarni. “Dari hari ke hari ternyata ukurannya bisa seperti ini. Saya tidak menyangka sama sekali,” katanya.

Ia juga mengatakan saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan. “Kata dokter saat ini anak dalam kandungan istri saya sudah mencapai 1,8 Kg,” jelasnya.

Fiko menjelaskan, keseharian dirinya hanyalah seorang buruh bangunan. “Sehari-hari kerja bangunan. Sehari Rp70 ribu. Kalau tidak kerja ya tidak dapat uang,” ceritanya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Keluarga Besar Tanjung Enim, Supriyadi yang ikut mengantar Sumarni ke RSMH mengatakan, kasihan melihat kondisi Sumarni.

“Kami mengetahui kondisi dan keberadaan Sumarni dari media sosial Facebook. Ketika itu, salah satu kerabat atau tetangganya memposting photo Sumarni, jadi kita tahunya dari situ,” ucapnya.

Karena merupakan organisasi yang bersifat sosial, lanjutnya, pihaknya pun segera bertindak. “Kami pun menggalang dana melalui media sosial juga. Dan saat ini sudah terkumpul sebanyak Rp45 juta, dan sudah kami berikan kepada suaminya untuk biaya pengobatan,” jelasnya.(juwita).


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita