oleh

Warga Talang Jambi Laporkan Developer Nakal Ke Polisi

Kolom:Peristiwa|59 kali dilihat

NuansaKita – Palembang : Warga yang tinggal di kawasan Talang Jambi Palembang melaporkan developer nakal ke pihak kepolisian daerah Sumatera Selatan.

Developer (pengembang) perumahan dianggap tidak memiliki itikad baik terhadap warga yang menjadi korban akibat pembangunan perumahan Gapura Residence, inisial IS dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumsel, (24/2).

Warga Kompleks Darma Karya, RT 11 RW 03, Kecamatan Talang Jambe, Sukarami, Azhari melaporkan IS selaku Direktur PT BIG, pengembang Gapura Residence  yang kini bertanggung jawab atas dugaan penyerobotan dan pengerusakan yang dilakukan secara bersama-sama  atas tanah seluas 200 m2 milik keluarganya.

Tanah yang terletak di Jl Masjid RT 12 RW 03 Kelurahan Talang Jambe, Palembang rencananya akan diteruskan developer milik IS.

Kasus 385 dan 170 KUHP dengan nomor LPB/137/II/2017/SPKT tanggal 22 Februari 2017 ini tengah ditangani Mapolda Sumsel.

Penyerobotan itu terjadi sejak 26 September 2014, di mana ayah korban Suprayitno (almarhum) memiliki sebidang tanah di lokasi tersebut. Dirinya mengaku jika di tanah tersebut ditempati ternak unggas dan tanaman sayur-mayur.

Kepemilikan tanah dibuktikannya dengan surat tanah berdasarkan pengoperan tanah usaha No. 589/SKR/2009, yang dibuat di kantor PPAT kantor Camat Sukarame, tanggal 22 Juni 2009 yang kini dalam proses pengurusan di Kantor ATR-BPN Kota Palembang.

Baca juga :  Wagub Setujui Usulan Sumsel Punya Tim Pengendali CSR

Pembangunan perumahan yang melibatkan kerja sama PT Bumi Iryu Griya dan Gapura Angkasa itu juga mengancam kerusakan lingkungan serta lima rumah warga dan satu tempat ibadah di RT 11 RW 03, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang.

Diketahui, IS selaku pemilik pengembang (developer) Gapura Residence melakukan take overproyek pengembang sebelumnya, Ari Wibowo dengan bendera Griya Surya Gemilang (PT Ragam Karya Gemilang). Kedua pengembang itu bekerja sama dengan cara bagi bangun bersama keluarga Muhasim (75) selaku pemilik tanah perumahan yang juga berstatus terlapor.

Awalnya, terlapor berusaha menemui para warga terutama ayah korban untuk melakukan tukar guling terhadap tanah tersebut. Korban kini menolak upaya tukar guling itu seperti  penyerobotan tanah dengan meratakan lahan menggunakan alat berat yang dilakukan pada 2014.

“Saya melaporkan IS karena sekarang dia yang bertanggung jawab penuh bersama Muhasim atas penyerobotan dan pengerusakan tanah. Apalagi tanah kami sudah terpotong jalan dan parit, sementara tanah yang ditukar guling masih bersertifikat atas nama mereka. Terlepas IS hanya meneruskan developer sebelumnya (Ari Wibowo) itu urusan mereka,” ungkap Azhari, Kamis (23/2).

Baca juga :  Warga Kota Palembang Diminta Bersiap-siap Jelang Penerapan PSBB

Dirinya menegaskan kronologi laporannya, IS menjadi terlapor karena tetap ingin mempertahankan posisi tukar guling  agar perumahan Gapura Residence tetap berlangsung.

“Itu sama saja terlapor IS meneruskan tindak penyerobotan tanah. Untuk pengerusakannya, karena terlapor tidak merealisasikan perbaikan parit yang mengancam kerusakan lima rumah warga dan satu tempat ibadah,” tegasnya.

Sementara, terlapor IS sendiri tetap ngotot pada kepentingan bisnisnya. “Saya kan jualan rumah. Kalau tanah (pelapor) dipagar, bagaimana tanggapan konsumen saya,” ungkap IS ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya.

Hasil penelusuran, terlapor IS  yang disebut-sebut sebagai mantan ketua organisasi olahraga menembak di Kota Palembang bekerja sama dengan PT Gapura Angkasa (holding BUMN di bandara SMB II) yang dapat kucuran kredit BTN.

IS berperan bekerja sama dengan PT Gapura Angkasa mendirikan perumahan Gapura Residence dengan sistem bagi bangun dengan Muhasim. Rumah yang sudah terjual ke karyawan maskapai sejumlah 43 unit namun belum memiliki IMB. “Rencananya kami mau launching perumahan, pihak Gapura sendiri yang minta. Tidak tahu kalau kejadiannya seperti ini,” ungkapnya.

Baca juga :  Pemprov Dukung Olimpiade Santri se-Sumsel

Sementara kuasa hukum terlapor Haris Sastra SH mengatakan, pengaduan laporan dugaan penyerobotan tanah dan pengerusakan pihaknya baru mengetahui. “Soal tukar guling belum tahu saya istilahnya. Perizinan perumahan IS memang saya yang mengurusnya.  H Iran  hanya meneruskan developer pertama. Saya tidak tahu ceritanya, ini take over, tetap jalan pembangunan perumahannya,” ungkap Haris

Terkait penyerobotan tanah dan pengrusakan milik korban, menurutnya,  tergantung kesepakatan dengan developer pertama. “Biar ada kata sepakat, harusnya surat dipecah, kemungkinan developer pertama hanya memberikan sebatas janji. Bagi IS saat masuk, sudah terbuka untuk jalan. Sudah ditentukan ada jalan, tata kota sudah turun.  Berkas laporan penyerobotan, tergantung keputusan H Iran,” terangnya.

Sebelumnya, Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel),  Irjen Pol Agung Budi Maryoto menegaskan, pihaknya  akan menindak tegas siapa pun yang terbukti menjadi mafia tanah dan developer nakal. “Kami berpesan kepada mafia tanah termasuk para developer nakal agar jangan coba-coba bermain karena pasti akan kami tindak. Apalagi saat ini sudah dibentuk tim saber pungli yang salah satu tugasnya untuk kasus-kasus itu,” tegasnya.


Penulis : | Editor : Tumpal Simaremare

Kabar Berita